Fajar sidik on Agustus 21st, 2012

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu akbar La ilaha illa-llah hu Allahu Akbar, Allahu akbar wa li-llahi l-ham. Kalimat takbir, mengagungkan Allah SWT ini yang menggema di seluruh penjuru alam jagad raya dikala telah di tetapkannya 1 Syawal (1 syawal 1433 H), tidak kalah keramaian menyambut datangnya hari raya Idul Fitri tahun ini (1433 H) yang terjadi di Indonesia. Mudik, baju baru, ketupat sayur, kue modern dan tradisional, petasan (mercon), parsel, salam tempel (ampau), keliling kampung, selametan, kerumah saudara, sungkeman, itu adalah tradisi yang mayoritas umum dilakukan masyarakat Indonesia dan khususnya yang saya lakukan di hari raya tahun ini. Begitu banyak segala bentuk kemewahan yang “timbul”, yang tidak ada menjadi ada, yang tidak biasa menjadi biasa, namun apakah arti dibalik “kemegahan” itu semua? Apakah ini yang dinamakan hari kemenangan? Apakah hari kemenangan harus, kudu, mesti, wajib, dirayakan seperti ini.

Kembali ke Fitrah

Fitrah yang berarti suci, bersih, putih (menurut bahasa). Fitrah dalam konteks Islam ialah kembali berish, suci, putih layaknya seorang bayi yang baru dilahirkan. Dimana dalam hal ini keadaan fitrah yang diharapkan terlahir pada diri setiap insan setelah apa yang dilakukan selama setahun kepada Allah SWT maupun sesama manusia bisa terhapuskan, karena dimomen inilah seharusnya kita bisa saling memaafkan satu sama lain sehingga kita bisa merasakan keikhlasan akan semua tingkah laku selama ini bisa terima tanpa ada rasa dendam dan iri.

Tak Harus Baju Baru

Baju baru bisa diartikan adalah jiwa dan raga yang baru ‘suci’ di hari raya idul fitri, namun makna sebenarnya tidak harus disimbolkan dengan berpakaian yang baru seperti lagu yang dipopulerkn oleh Dea Ananda ‘Baju baru Alhamdulilah di pakai dihari Raya, tak punya pun tak apa-apa masih ada Baju yang lama’ tidak ada keharusan dan kewajiban untuk mengenakan baju baru yang terpenting adalah hati, jiwa dan raga lah yang harus baru, tidak ada iri, dengki, sombong, ria, pamer, gibah, sedangkan jiwa dan raga ialah lebih bisa mendekatkan diri pada sang pencipta Allah SWT.

Bukan Sekadar Mudik

Mudik emmmmmm!! Tradisi yang satu ini merupakan hal yang sangat mencolok dan ciri khas masyarakat Indonesia. Tradisi mudik sekiranya tidak hanya sekedar pulang ke kampong, liburan dikampung halaman, berkumpul dengan keluarga besar, atau bahkan sebagai ajang unjuk ‘duniawi’ semata Astaghfirullahaldzim!!. Sudah semestinya kita semua bisa memaknai arti mudik itu sendiri sebagai ajang saling berbagi satu sama lain, ajang saling silaturahmi dengan keluarga besar, tanda bakti kepada orang tua dan meminta maaf akan semua kesalahan yang telah dilakukan walaupun jarang bertemu namun ketika hati ini terbesit fikiran ‘kotor’ yang timbul.

 Kemenangan Hati

Idul Fitri sering disebut sebagai hari kemenangan, yups!! Kemenangan dalam arti yang sebenarnya, dimana salah satu kemenangan yang teramat dirasakan ialah kemenangan setelah satu bulan melawan segala hawa nafsu keburukan yang sering timbul menggoda iman dan ketika itu semua bisa dilewati dengan segala keikhlasan maka hari ini begitu terasa ‘kemenangan kita raih’ tetapi alangkah amat baiknya ketika kemenangan tidak hanya setelah Ramadhan namun di bulan-bula, minggu-minggu, hari-hari, jam, menit, detik, nafas, dan kedipan mata kita wujudkan sebagai ‘kemenangan’ pasca Idul Fitri, segala aktifitas menuju ketaqwaan bisa terus berlangsung sampai datangnya kembali bulan yang agung (Ramadhan 1434 H) Aamiin ya Rab.

 

Nah, bagaimanakah cara Anda memaknai Idul Fitri? Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum.

Fajar sidik on Maret 28th, 2012

Indonesia merupakan negara maritim yang terdiri dari 2/3 bagian air dan lauta, selebihnya daratan yang terdiri dari 13.000 pulau besar dan kecil. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumberdaya alam perairannya dengan luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km2 dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508, memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dikelola secara lestari dan 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia dan 1,86 juta ton diperoleh dari perairan ZEEI (Kementrian Kelautan dan Perikanan).

Data statistik perikanan tangkap Indonesia (2000) menunjukan bahwa produksi perikanan Indonesia meningkat rata-rata sebesar 3,39% dari tahun 1999-2000, dengan peningkatan dari 3.682.444 pada tahun 1999 dan 3.807.191 ton pada tahun 2000. Pada tahun 2004, produksi perikanan tangkap negara kita telah mencapai 4,8 ton atau 77,4% dan jumlah nelayang telah naik menjadi 3,4 juta orang. Karena itu Indonesia dapat dikatakan Negara kaya akan sumberdaya perikanan yang memiliki potensial akan sumber pangan hewani yang berasal dari ikan. Namun demikian walaupun melimpahnya sumberdaya ikan di Indonesia akan tetapi tingkat konsumsi ikan masih sangat rendah, cenderung orang Indonesia lebih memilih mengkonsumsi bahan pangan yang bersumber dari darat dibandingkan dari laut.

Tingkat konsumsi rata-rata penduduk Indonesia pada tahun 1998 sebesar 17 kg/orang/tahun dan pada tahun 2003 mencapai 23 kg/orang/tahun, jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi ikan rata-rata per kapita per tahun di Negara-negara lain yang pada kenyataannya Negara mereka memiliki luas perairan dan garis pantai yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia, seperti Hongkong, Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Malaysia berturut-turut adalah 80, 70, 65, 60, 35, 30 kg/orang/tahun, sedangkan orang jepang rata-rata 110 kg/orang/tahun (Hutagalung 2007), sehingga dikatakan dengan bangsa dengan kualitas kesehatan serta kecerdasan tertinggi di dunia. Hal ini bias dijadikan gambaran bahwa sebenarnya kandungan gizi yang terdapat pada ikan tidak kalah dengan kendungan gizi dari bahan pangan yang bersumber dari darat. Sehingga, seharusnya bangsa kita bisa bercermin terhadap bangsa jepang yang memanfaatkan secara maksimal sumberdaya perikanan di negaranya dengan cara menjadikan sumberdaya perikanan sebagai bahan pangan utama makanan mereka.

Jika ditinjau dari negara-negara yang disebutkan diatas harusnya kita bisa berfikir  bahwa pada kenyataanya negara-negara tersebut memiliki perairan dan garis pantai yang tidak sebesar Indonesia, namun tingkat konsumsi produk perikanan per kapita per tahun bisa lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah, hal ini  sangat berbanding terbalik dengan  luas perairan Indonesia dan sumberdaya hayati yang melimpah didalamnya. Salah satu cara yang harus dilakukan ialah dengan menjadikan ikan sebagai bahan pangan yang setara dengan bahan pangan  yang bersumber dari darat, karena kelimpahan sumberdaya perikanan di perairan sudah tidak diragukan lagi akan kelimpahan sumberdayanya. Namun beberapa tahun terakhir tingkat konsumsi perkapita mengalami peningkatan yaitu mencapai 25,03 kg/tahun pada tahun 2006 atau meningkat sebesar 4,51% dari tahun 2005 sebesar 23,95 kg/perkapita/tahun (Hutagalung 2007), peningkatan ini dapat dikatakan sebagai suatu kemajuan namun diharapkan tidak dijadikan sebagai suatu kepuasan karena jika kita melihat sumberdaya yang melimpah di Indonesia maka dengan seharusnya Indonesia bisa menaikan tingkat konsumsi ikan yang lebih tinggi bahkan setara dengan tingkat konsumsi ikan bangsa jepang per kapita pertahun.

Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung berbagai macam zat nutrisi. Ikan menurut perairan tempat hidupnya terdiri dari ikan air tawar dan ikan laut. Keduanya adalah makanan sumber protein yang sangat penting untuk pertumbuhan tubuh. Sebagai bahan pangan, ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin dan mineral yang sangat baik dan prospektif. Keunggulan utama protein ikan dibandingkan dengan produk lainnya adalah kelengkapan komposisi asam amino dan kemudahannya untuk dicerna (Astawan 2003). Ikan juga mengandung 18% protein, yang terdiri dari asam-asam amino esensial yang tidak rusak pada waktu pemasakan. Kandungan lemaknya 1%-20% lemak yang mudah dicerna serta langsung dapat digunakan oleh jaringan tubuh. Kandungan lemaknya sebagian besar adalah asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan dapat menurunkan kolesterol darah (Hutagalung 2007).

Secara keseluruhan protein, vitamin, mineral dan asam lemak omega 3 yang dikandung dalam ikan mempunyai peran dalam kesehatan tubuh manusia baik di bagian otak, mata, jantung, paru-paru, otot, pencernaan, kulit maupun persendian. Untuk memperoleh efek omega 3, diperlukan asupan omega 3 dalam jumlah tertentu, sebagian orang harus makan ikan setara 2-3 kali dengan 100 gram per sekali makan dalam sehari atau sekitar 6-9 gram minyak ikan per hari (Astawan 2003). Lingkungan IX merupakan salah satu daerah nelayan yang berada di Kelurahan Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan sebesar 85% dengan jumlah penduduk sebanyak 335 KK. Sebagai daerah nelayan, ikan merupakan makanan yang dapat dihasilkan sendiri, namun masih ada masyarakat yang lebih memilih menjual ikan yang mereka tangkap dibandingkan dikonsumsi, sehingga penulis ingin mengetahui tingkat konsumsi protein ikan pada keluarga nelayan.

SUMBER :

Hutagalung.2007.Sumberdaya Ikan Konsumsi Perairan in Potensi dan Penyebaran SDI Laut di Perairan Indonesia.Lipi.Jakarta.